![]() |
| Foto AFP |
SURIAH - Kelompok relawan Suriah menyebutkan Sebanyak 674 warga sipil tewas dalam dua minggu akibat serangan udara terus-menerus di pinggiran Damaskus, Ghouta.
Pertahanan Sipil Suriah juga mengungkapkan, pada hari Jumat bahwa lebih dari 670 orang telah terbunuh sejak pemerintah Suriah bersama Rusia, melancarkan serangan udara di daerah pedesaan di luar ibukota pada 18 Februari.
Ghouta Timur memikiki populasi penduduk hampir 400.000 orang, telah dikepung oleh pemerintah Suriah sejak kelompok oposisi menguasai kawasan tersebut pada pertengahan 2013.
Pemboman udara telah menimbulkan kecaman internasional, namun gencatan senjata 30 hari yang dengan suara bulat dipilih oleh anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa Sabtu lalu sebagian besar gagal untuk dipegang, karena serangan udara terus berlanjut tanpa henti.
"Penargetan sistematis pesawat tempur Suriah dan Rusia di wilayah pemukiman Ghouta Timur belum berhenti," katanya kepada Al Jazeera.
Warga telah menyatakan ketidakpercayaan mereka dalam "jeda kemanusiaan lima jam sehari", yang diajukan oleh Rusia, yang konon akan menciptakan "koridor kemanusiaan" untuk memungkinkan evakuasi mereka yang mencari perawatan medis dan masuknya konvoi bantuan.
Namun sejauh ini, tidak ada satu konvoi bantuan yang bisa masuk, dan warga mengatakan bahwa tidak ada jaminan keselamatan mereka jika mereka memilih untuk mengevakuasi daerah tersebut.
"Orang-orang Ghouta Timur mengolok-olok berita tentang koridor jeda kemanusia versi rusua - mereka tidak mempercayainya sedetik karena mereka telah kehilangan kepercayaan pada kredibilitas rezim - terutama karena penembakan tersebut tidak berhenti, dan baik orang Rusia maupun rezim Suriah tidak menyatakan keseriusan melindungi warga sipil keluar dari perang, "Abdelmalik Aboud, seorang aktivis dari kota Douma, sebelumnya mengatakan kepada Al Jazeera.
SOURCE: AL JAZEERA ARABI
