-->


Iklan

newiklan

Buwas: Mayoritas Peredaran Narkoba Libatkan Lapas

Senin, 05 Maret 2018, Maret 05, 2018 Wita Last Updated 2018-03-05T07:43:41Z
Foto carlos roy/ beritasatu

Jakarta -- Mantan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen (Pol) Budi Waseso (Buwas) berharap apa yang sudah dikerjakan di BNN bisa dilanjutkan dan ditingkatkan kinerjanya oleh kepala BNN yang baru Irjen (Pol) Heru Winarko.

"Saya tadi sudah memaparkan apa yang sudah saya lakukan, sedang berjalan, dan yang belum. Progres pengembangan sudah saya sampaikan ke beliau. Untuk meneruskan apa-apa yang akan dicapai ke depan. Nanti akan dipadukan dengan konsep beliau," kata Buwas usai serah terima jabatan kepada Heru sekaligus pemaparan kinerja BNN di Gedung BNN, Cawang Jakarta, Senin (5/3).

Ia menyebutkan, pada 2017 lalu, lebih dari 50 persen kasus yang ditangani atau sekitar 28-29.000 kasus dengan 58.000 tersangka itu melibatkan pihak lembaga permasyarakatan (lapas).

Untuk itu Buwas kerap mengusulkan perbaikan sistem lapas dengan menggagas ide membuat penjara yang dikelilingi buaya. Pembangunan lapas yang dikelilingi buaya ini tidak menggunakan APBN. Dananya dari sitaan aset-aset bandar narkotika yang ditangkap.

Hal itu pernah disampaikan kepada Presiden Joko Widodo, dan Menko Polhukam. Dia berharap Menkumham sebagai penanggung jawab konsep tahanan narkotika agar segera merealisasikan konsep tahana terpisah itu. "Jadi ini tidak main-main mereka berjalan terus, sampai dunia kiamat mereka akan terus begitu, jika tidak didukung perbaikan sistem. Konsep penjara buaya itu 3 bulan setelah pencetusan saya ditunjuk kepala BNN. Karena saat itu 50 persen peredaran narkoba dilakukan dari lapas. Jaringan narkoba mereka bisa berkoordinasi dengan petugas lapas," tambahnya.

Buwas optimistis Heru Winarko yang berpengalaman di KPK bisa menjalankan tugas pemberantasan narkoba dengan integritas dan komitmen kuat. "Program saya yang belum dilaksanakan akan disempurnakan oleh bapak Heru. Karena beliau dari KPK, ada hal-hal baik yang akan ditetapkan. BNN akan bekerja sama untuk mendapatkan anggota yang berkualitas, agar BNN lebih maju, khususnya di bidang narkotika. Keberhasilan BNN dalam TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang)," akan disinergikan dengan KPK. Karena KPK juga cukup berpengalaman dalam bidang TPPU," tutur Buwas.

Dia juga selalu mengedepankan deteksi dini dan kerja sama intelijen dengan memperbaharui data. Pengungkapan kasus sabu oleh TNI AL, dan kepolisian itu datanya dari Tiongkok, Thailand, Australia, Filipina. "Saya tidak pernah meniru-niru Duterte (Presiden Filipina), saya minta jangan dibanding-bandingkan antara saya dengan pak Heru, masyarakat dan institusi lainnya perlu mendukung kinerja BNN di bawah kepemimpinan beliau," tutup Buwas.

Buwas juga mengaku lega telah menyelesaikan tugasnya selama tiga tahun terakhir di BNN. Per Senin (5/3) hari ini Buwas secara de facto dan de jure sudah merupakan warga sipil, dan purnawirawan Polri.

"Saya harus tegas jelas dan fakta. Saya harus terbuka dengan informasi agar masyarakat paham betul bahwa Indonesia darurat narkoba. Sehingga masyarakat merespon dan lebih waspada dengan bahaya narkoba. Jumlah ratusan ton sabu, prekursor, PCC itu bukan saya mengarangnya-ngarang, tapi itu fakta, dari luar masuk ke Indonesia. Tiongkok berbentuk teh herbal, setiap jenis berbeda sumbernya," lanjut Buwas.

Sumber: Beritasatu
Komentar

Tampilkan