ilustrasi
PADANG - Para dai di Sumatera Barat ikut bersuara tim penanggulangan banjir MCA (Muslim Cyber Army) dalam grup Keluarga MCA. Kelompok ini disinyalir buat pemberitaan hoaks dan penyebarannya sebagai isu yang meresahkan masyarakat.
Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Sumatera Barat Urwatul Wusqa mengatakan, pada prinsipnya Islam sudah menggunakan media sosial (medos). Islam, lanjutnya, tatanan masyarakat senantiasa ber-tabayyun dalam isual setiap isu.
Tak hanya itu, Urwatul memaksakan Islam membatasi umat menyebarkan berita bohong. Hanya saja dalam kasus penangkapan anggota MCA kali ini, Urwatul balik aparat kepolisian dan pemerintah untuk bersikap adil dan berimbang dalam melakukan penindakan.
Maksudnya, penindakan atas penyebar berita bohong atau hoaks jangan sampai terlihat 'berat sebelah' atau menyasar pihak yang berseberangan dengan pemerintah saja.
"Yang menarik, saat dulu ada salah satu pimpinan partai pernah berbicara tentang konteks umat Islam yang notabene adalah pelecehan, enggakpernah ditangkap. Namun umat Islam yang sampaikan, ada ibu-ibu, langsung ditangkap Ada apa dengan pemerintah?" kata Urwatul, Kamis (1/3).
Ia mengatakan, para ulama pun berpihak pada hukum. Artinya, bila memang terbukti bersalah maka proses hukum harus dijalani. Apa yang 'wanti-wanti' kepada pemerintah, jangan sampai satu kelompok terkena salah syarat akibat adanya isu penyebaran hoaks saat ini.
Misalnya, kata Urwatul, pandangan anti-NKRI yang sudah dibangun untuk umat Islam. Lepas menurutnya, umat Islam sudah banyak memberi banyak halal dalam konteks persatuan.
"Jangan sampai terbentuk dengan penuh dengan Islam. Itu yang ingin kita hindari," katanya.
Menanggapi perkembangan isu gembira, para dai akan berkumpul di Kota Padang, Sumatra Barat pada 2-4 Maret 2018 esok. Melalui Silaturahim Nasional (Silatnas) Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) 2018, ulama ingin membangun tindakan yang sejalan dengan pemerintah.
Republika http://bit.ly/2tdrdY7
PADANG - Para dai di Sumatera Barat ikut bersuara tim penanggulangan banjir MCA (Muslim Cyber Army) dalam grup Keluarga MCA. Kelompok ini disinyalir buat pemberitaan hoaks dan penyebarannya sebagai isu yang meresahkan masyarakat.
Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Sumatera Barat Urwatul Wusqa mengatakan, pada prinsipnya Islam sudah menggunakan media sosial (medos). Islam, lanjutnya, tatanan masyarakat senantiasa ber-tabayyun dalam isual setiap isu.
Tak hanya itu, Urwatul memaksakan Islam membatasi umat menyebarkan berita bohong. Hanya saja dalam kasus penangkapan anggota MCA kali ini, Urwatul balik aparat kepolisian dan pemerintah untuk bersikap adil dan berimbang dalam melakukan penindakan.
Maksudnya, penindakan atas penyebar berita bohong atau hoaks jangan sampai terlihat 'berat sebelah' atau menyasar pihak yang berseberangan dengan pemerintah saja.
"Yang menarik, saat dulu ada salah satu pimpinan partai pernah berbicara tentang konteks umat Islam yang notabene adalah pelecehan, enggakpernah ditangkap. Namun umat Islam yang sampaikan, ada ibu-ibu, langsung ditangkap Ada apa dengan pemerintah?" kata Urwatul, Kamis (1/3).
Ia mengatakan, para ulama pun berpihak pada hukum. Artinya, bila memang terbukti bersalah maka proses hukum harus dijalani. Apa yang 'wanti-wanti' kepada pemerintah, jangan sampai satu kelompok terkena salah syarat akibat adanya isu penyebaran hoaks saat ini.
Misalnya, kata Urwatul, pandangan anti-NKRI yang sudah dibangun untuk umat Islam. Lepas menurutnya, umat Islam sudah banyak memberi banyak halal dalam konteks persatuan.
"Jangan sampai terbentuk dengan penuh dengan Islam. Itu yang ingin kita hindari," katanya.
Menanggapi perkembangan isu gembira, para dai akan berkumpul di Kota Padang, Sumatra Barat pada 2-4 Maret 2018 esok. Melalui Silaturahim Nasional (Silatnas) Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) 2018, ulama ingin membangun tindakan yang sejalan dengan pemerintah.
Republika http://bit.ly/2tdrdY7
