-->


Iklan

newiklan

JSI: Tidak Ada Kandidat Dapatkan Suara Mutlak di Pilwalkot Makassar

Jumat, 09 Maret 2018, Maret 09, 2018 Wita Last Updated 2018-03-09T04:05:24Z


Kota Makassar akan menjadi daerah rebutan empat pasang calon gubernur dan wakil gubernur Sulsel. Jumlah pemilihnya yang besar, menjadi salah satu alasan.

Karena empat paslon sama-sama ingin menang di Makassar, maka dapat diprediksi juga, tak ada satupun kontestan yang akan meraih suara mutlak di ibu kota provinsi ini.

Wakil Direktur Eksekutif Jaringan Suara Indonesia (JSI), Popon Lingga Geni memaparkan salah satu alasannya. Kata Popon, karena pemilih di wilayah perkotaan, cenderung dinamis.

"Bisa saja tidak ada satupun paslon punya suara mutlak di Makassar. Karena pemilih di kota Makassar cenderung lebih dinamis. Kenapa, karena kota Makassar adalah kota dengan akses informasi yang kuat dan cepat," kata Popon kepada Rakyatku.com, Kamis (8/3/2018).

Akses informasi ini kata dia, bila jauh masuk dalam kehidupan masyarakat, dapat berpengaruh dalam menentukan pilihan warga.

Meskipun, Popon meyebut, kota Makassar memang wilayah yang menentukan. Walaupun bukan satu-satunya. Dia mengambil contoh, dalam sejarah dua Pilgub Sulsel sebelumya.

"Waktu Pak SYL (Syahrul Yasin Limpo) pertama kali ikut Pilgub Sulsel, kalau tidak salah di kota Makassar juga menang, walau tipis. Padahal sebelumnya jauh tertinggal dari Amin Syam," urainya.

"Tapi waktu itu, juga berkaitan dengan suara Bone dan suara di Gowa," kata Popon menambahkan.

Begitu juga, saat Pilgub Sulsel kedua yang diikuti Syahrul Yasin Limpo. Di awal, SYL tertinggal jauh dari Ilham Arief Sirajuddin di kota Makassar.

"Namun akhirnya SYL bisa landing hanya dengan selisih empat persen di Makassar (Ilham-Aziz menang). Lagi-lagi, waktu itu juga terkait suara di Gowa dan Bone," terangnya.

Direktur Eksekutif Epicentrum Politica, Iin Fitriani menjelaskan, kota Makassar selalu punya nilainya sendiri di tiap gelaran kontestasi Pilgub Sulsel. Karena kota Makassar kata dia, adalah pusat segalanya bagi paslon.

"Pertama, kota ini adalah pusat kemajemukan tipologi pemilih. Paslon tentu berjuang keras untuk bisa meraih simpati calon pemilih yang berbeda-beda arah pandangan dan harapan," kata Iin.

Kedua, sebagai ibu kota Provinsi Sulawesi Selatan, pusat seluruh aktifitas politik para paslon ada di Makassar. Ia menyebutnya, kota Makassar semacam "titik kumpul" bagi para paslon untuk memulai dan mengakhiri strategi politik yang mereka gunakan.

"Untuk bisa meraih suara mutlak, itu berat. Namun bukan berarti tidak mungkin," kata Iin.

Olehnya itu kata dia, upaya salah satu paslon untuk mendulang sura lebih banyak di Kota Makassar, gampang-gampang susah. Dia memprediksi, pemilih di Kota Makassar akan terdistribusi habis ke empat pasangan calon.

"Maka menjadi tantangan berat untuk keempat calon ini untuk bisa berbagi dan menjaga basis. Semua tentu ingin unggul di Makassar," tambahnya.

Kendati demikian, bukan hal yang tidak mungkin bisa terjadi, salah satu pasangan calon akan memeroleh suara mutlak. Semuanya tergantung strategi yang telah diracik.

"Saya rasa semua paslon sudah punya senjata ampuh, yang tidak perlu diragukan lagi semua kapasitas tim mereka. Tinggal kita lihat siapa paslon yang mampu mengungguli pesaingnya dalam hal 'branding effect' di masyarakat kota Makassar ini," jelasnya.

Soal branding effect yang dimaksud Iin inilah yang kemungkinan begitu sulit diperoleh.

"Saat ini, semua masih berusaha menuju ke situ. Masih berlomba mengemas sebagus mungkin. Karena tidak mudah itu bisa dapat feelnya 'branding effect' itu. Soalnya Makassar juga adalah salah satu yang tingkat partisipasinya paling rendah," demikian ungkapnya.

http://bit.ly/2oZcjiA rakyatku
Komentar

Tampilkan

Liputan9

Liputan9