-->


Iklan

newiklan

Observatorium Suriah: Rezim Assad Bunuh 465 Warga Sipil Ghouta Timur,

Rabu, 28 Februari 2018, Februari 28, 2018 Wita Last Updated 2018-02-28T08:29:36Z

Hidayatullah.com

SURIAH -- Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (Suriah Observatory for Human Rights, SOHR) kembali mengambil angka angka di Ghouta Timur, Suriah. Jumat (23/2), terjadwal 462 warga sipil mati, termasuk di usahakan anak. Sementara itu, ribuan jiwa lainnya mengalami luka-luka.

Serangan udara yang terus menerus menggempur Ghouta Timur selama tujuh hari ini diyakini sebagai kondisi perang terburuk di Suriah, bahkan melebihi Aleppo pada 2016 lalu. Jet tempur secara intensif membombardir rumah warga fasilitas umum seperti masjid, rumah sakit, sekolah, dan bangunan lainnya.

Mahmood Adam, anggota Pertahanan Sipil Suriah, menjelaskan kondisi terkini di Ghouta Timur seperti "malapetaka"

"Kita berbicara mengenai rentetan serangan yang menyasar warga sipil di rumah mereka, sekolah, pusat layanan kesehatan, pasar, dan beberapa daerah pertahanan masyarakat sipil. Ini sama seperti pembantaian massal, "terang Mahmood, seperti yang dilansir dari Al Jazeera.

Tidak ada yang bisa dilakukan oleh warga Ghouta Timur, yang sebagian besar merupakan para pengungsi internal (IDP). Bahkan, untuk membebaskan diri dari hantaman roket perang pun mereka sulit.

Mahmood menambahkan, banyak keluarga yang bersembunyi di ruang bawah tanah di mana mereka jarang melihat sinar matahari selama berhari-hari. Itu semua karena mereka dilingkupi rasa takut atas bombardir yang dilayangkan oleh jet tempur rezim.

"Kami tidak tahu apakah kami masih bisa hidup untuk membasuh dunia tentang apa yang terjadi di sini dalam beberapa jam atau hari ke depan. Serangan udara tidak ada habisnya. Jet tempur belum juga meninggalkan langit Ghouta Timur sejak Ahad (18/2). Ini seperti perang terhadap warga sipil, "tutur Mahmood.

Nisma al-Hatri, salah seorang warga Ghouta Timur, wah atas horornya beberapa hari ini di lingkungan. Dentuman lahir menjadi alarm pagi yang membangunkan suami anak perempuannya, Sara (10), dari tidur mereka.

"Setiap hari selalu seperti ini: ada bom, lalu saya bersih rumah yang terkena hempasan bahan bom di sekitar rumah, maka kami bersembunyi di satu ruangan, berusaha menyelamatkan diri atau mungkin bersama," ungkap Nisma getir kepada Al Jazeera.

Ghouta Timur telah dikepung pihak Masuk sejak 2013. Pasang surut perang sedang, melibatkan, rezim, dan beberapa negara lainnya yang terkait. Pengepungan selama lima tahun ini membuat bantuan bantuan vital vital Ghouta Timur.

Ditambah dengan kondisi konflik yang semakin intensif ini, akses masuk pun semakin dibatasi. PBB telah diperbaiki pihak-pihak terkait untuk segera melakukan gencatan senjata akses terhadap bantuan kemanusiaan internasional, mengingat seriusnya syarat perang.

sumber ACT
Komentar

Tampilkan

Postingan Populer

Liputan9

Liputan9