![]() |
| Tribunnews |
Oleh Faisal Arraf
Cak imin melewati jenjang
karir politik di PKB, hampir semua jabatan strategis telah dilalui baik di
partai, DPR RI dan kementerian. Ia mencoba peruntungan baru sebagai calon Wakil Presiden mendatang
Melihat hasi survei Poltracking
Cak Imin menempati urutan keempat setelah AIH, Anis, Gatot dan Ridwan Kamil
dengan perolehan 7 persen, kecuali jika Jusuf Kalla tidak maju lagi di pilpres
mendatang. Artinya dengan raiahan ini masih terbuka lebar untuk memanaskan
mesin politik. Ada tiga skenario bagi politisi santri ini, antar bergabung
bersama jokowi, Prabowo atau membangun poros baru diluar dua capres ini
Saat ini hanya ada dua
Capres yang mempunyai angka elektabilitas yang tidak terpaut jauh dalam survei
median baru baru ini. Diprediksi dua sosok ini yang memiliki peluang besar, pertama
Jokowi diusung partai kuat PDIP dan Golkar, sementara Prabowo dengan Gerindra
bersama partai menengah PKS-PAN
Jokowi membutuhkan
pendamping dari kalangan santri untuk mengimbangi citra abangan, apalagi jokowi
mendapatkan tantangan dari kelompok muslim 212 yang tersebar di berbagai kota
dan pesantren. Bisa juga Jokowi mengambil dari kalangan mileter untuk
mengimbangi isu komunisme dan arus migrasi pekerja dari Cina, maka sosok yang
tepat adalah Gatot Nurmantiyo, selain
memiliki latar militer juga memiliki kedekatan dengan ummat
Dikalangan NU, Muhaimin
belum selesai dengan perkara masa lalu yang pernah berperkara dengan almarhum
Gus Dur yang juga memiliki pendukung yang loyal berhimpun dalam Gusdurian. PR
ini harus diselesaikan sebelum politis muda NU itu hendak mendapatkan dukungan
bulat dari nahdhiyin. Secera struktural Muhaimin cukup berpengaruh, bisa
dilihat begitu banyaknya kader PKB yang duduk di jajaran tanfziyah NU, artinya
sisa menggarap jamaah NU.
Meski dalam politik
elektoral basis NU tidak solid ke satu pasangan, misalnya Hasyim Muzadi yang
berpasangan dengan Megawati kalah oleh SBY-JK dalam Pilpres 2004. Begitupula
dukungan ketua PBNU ke Prabowo Pilpres lalu membuktikan cairnya peta electoral
warga NU
Disisi lain mantan Menteri
Tenaga Kerja ini harus bersaing ketat dengan kompeititor lain yang memiliki
elektabilitas yang mumpuni seperti AIH, Gatot, Zulkifli Hasan PAN, TGB Zainul
Majdi mantan Gubernur NTB . Keinginan Ketua PKB ini berpaket dengan Jokowi
memiliki jalang terjal, mengigat dua partai besar PDIP dan Golkar mengicar
posisi yang sama, bisa jadi Golkar mengajukan calon, begitupula PDIP memiliki
saham besar pada Jokowi yang disebut sebagai petugas partai. Megawati tentu
tidak membuang peluang ini untuk mengangkat pamor partai
Skenario Poros Barus
Berdasarkan Survei bahwa lebih dari 50 persen masyarakat
menginkan Capres diluar dua kubu yang selama ini digadan-gadang Jokowi vs
Prabowo. Muhaimin bisa menjadi Motor penggerak untuk menjalin komunikasi. Dengan
catatan, mampu meyakinkan mantan karib
koalisinya KIB SBY, modal ini menjadi besar apalagi berpaket dengan AiH yang
memiliki elektabilitas yang mumpuni.
Peta politik elektoral masih bisa menghadikan kejutan
kedepan, apalagi masih tersisa waktu setahun lebih, langkah-langkah politik
menentukan di tahun ini. Hampir semua partai mulai melakukan konsilidasi
politik menjelang Pemilu, artinya mesin partai politik menjadi ujung tombok
para Capres dan Cawapres bagaimana memaksimalkan kinerja partai
